Senin, 16 Juni 2014

Analisis Lirik: Manira

MANIRA
Penyanyi: Noraniza Idris
Komposer: Pak Ngah & Fadhil Ahmad
Lirik: Mohd. Kamarulzaman Taib

Malam ini, saya memutuskan untuk menganalisis lirik. Tentunya, ini adalah interpretasi saya, hanya penulis lirik dan komposerlah yang boleh menentukan apakah interpretasi saya benar atau salah. Manira adalah satu dari sekian banyak lagu berirama Melayu yang saya sukai. Rentaknya adalah samrah, yaitu rentak yang memadukan unsur Persia dan Arab di dalamnya. Berikut liriknya:

Deru langkisau redup menutup, alah sayang, redup menutup
Langit membiru kelam berkabut, alah sayang, kelam berkabut
Rusaklah sudah lerahlah jiwa, alah sayang, lerahlah jiwa
Bagailah mana rungkai nasibnya, alah sayang, rungkai nasibnya

Refrain (2x):
Buana fitrah alam bersatu
Manira sujud seru kalimah kudus
Dia hanya satu

Siapa bisa redah kesumat, mungkinkah ada bukan hikayat?
Laksana berapi ada bertepi, tamatlah segala dendam amarah...
Mengapa dalam damai diragut? Tandanya larik tak bertaut
Kiranya 'tika malam menyebut, nyala padam berarak redup

Sinar mentari terbit meninggi, alah sayang, terbit meninggi
Matanya bundar kaca-berkaca, alah sayang, kaca-berkaca
Padukan satu buana indah, alah sayang, buana indah
Tentulah rahmat fitrah tercipta, alah sayang, fitrah tercipta

Kembali ke refrain

Analisis Lirik

Lirik ini penuh metafora (semoga saya bisa menginterpretasikan lirik ini dengan tepat). Ada beberapa simbol, namun saya lebih memfokuskan pada baris: Mengapa dalam damai diragut? Tandanya larik tak bertaut/Kiranya 'tika malam menyebut, nyala padam berarak redup. Menurut saya, inilah kunci dari lagu ini. Lagu ini menceritakan kedamaian beragama yang adalah objek sebagian orang untuk dirusak dengan kisruh sana sini. 

Ketika saya mendengar lagu ini, memang benar. Lagu ini sedikit 'menyentil' situasi zaman sekarang. Kisruh beragama yang diganggu. Agama adalah hak setiap orang untuk dipeluk dan kebebasan agama adalah dijamin pemerintah. Namun, mengapa sepertinya para penguasa merusak kebebasan dan kedamaian beragama melalui kerusuhan di sana-sini, izin pembangunan rumah ibadah yang dipersulit, dan lain sebagainya, sengketa tempat ibadah antara masyarakat sekitar dan pembangun, dan lain sebagainya. 

Haruskah kita menunggu untuk ditegur terlebih dahulu agar bisa berefleksi atas semua ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar