Pernah berpikir kalau kamu dianggap 'musnah' oleh seseorang? Kalau kamu pernah, saya malah sering. Kamu boleh saja menertawakan saya tetapi... ah! Aku hanya mau menegaskan kalau ini bukan sesuatu yang layak dan pantas untuk ditertawakan.
Um, oke. Baiklah. Kita mulai. Kegundahan ini berasal ketika teman saya, Eva, mengatakan kalau ada anak-anak progdi kami, Sastra Inggris yang ingin dimasukkan dalam Komisi D Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (BPM-FBS). Aku masuk dari salah satu orang yang dicalonkan untuk masuk ke sana. Tapi... yang terpilih justru untuk orang lain.
Pertanyaannya adalah: apa yang membuat saya menjadi tidak terpilih? Orang-orang bilang, saya kurang dikenal dalam lingkungan fakultas. Yang justru saya pertanyakan adalah: apakah karena kasus saya menyukai mantan ketua SM-FBS 2013/2014 yang justru membuat saya terkenal dan saya terkenal dengan... sesuatu yang negatif? Oke, saya akui itu memang kesalahan saya. Tetapi, apakah dengan hal itu mereka berasumsi demikian?
Kedua. Apakah saya kurang well-behaved sehingga saya menjadi seseorang yang dijauhi? Saya alay? Justru saya pikir banyak orang yang sebenarnya lebih alay daripada saya. Saya bersikap demikian karena saya ingin sesuatu yang berbeda dan ingin segalanya menjadi lebih 'hidup' (mengerti apa yang disebut hidup di sini, bukan?).
Anda tahu, saya sudah lelah hidup di fakultas saya sendiri. Jangan salahkan kalau saya lulus dengan tidak membawa soft-skill apapun. :)