Rabu, 18 Juni 2014

Musnah

Pernah berpikir kalau kamu dianggap 'musnah' oleh seseorang? Kalau kamu pernah, saya malah sering. Kamu boleh saja menertawakan saya tetapi... ah! Aku hanya mau menegaskan kalau ini bukan sesuatu yang layak dan pantas untuk ditertawakan. 

Um, oke. Baiklah. Kita mulai. Kegundahan ini berasal ketika teman saya, Eva, mengatakan kalau ada anak-anak progdi kami, Sastra Inggris yang ingin dimasukkan dalam Komisi D Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (BPM-FBS). Aku masuk dari salah satu orang yang dicalonkan untuk masuk ke sana. Tapi... yang terpilih justru untuk orang lain. 

Pertanyaannya adalah: apa yang membuat saya menjadi tidak terpilih? Orang-orang bilang, saya kurang dikenal dalam lingkungan fakultas. Yang justru saya pertanyakan adalah: apakah karena kasus saya menyukai mantan ketua SM-FBS 2013/2014 yang justru membuat saya terkenal dan saya terkenal dengan... sesuatu yang negatif? Oke, saya akui itu memang kesalahan saya. Tetapi, apakah dengan hal itu mereka berasumsi demikian? 

Kedua. Apakah saya kurang well-behaved sehingga saya menjadi seseorang yang dijauhi? Saya alay? Justru saya pikir banyak orang yang sebenarnya lebih alay daripada saya. Saya bersikap demikian karena saya ingin sesuatu yang berbeda dan ingin segalanya menjadi lebih 'hidup' (mengerti apa yang disebut hidup di sini, bukan?).

Anda tahu, saya sudah lelah hidup di fakultas saya sendiri. Jangan salahkan kalau saya lulus dengan tidak membawa soft-skill apapun. :)


Senin, 16 Juni 2014

Analisis Lirik: Manira

MANIRA
Penyanyi: Noraniza Idris
Komposer: Pak Ngah & Fadhil Ahmad
Lirik: Mohd. Kamarulzaman Taib

Malam ini, saya memutuskan untuk menganalisis lirik. Tentunya, ini adalah interpretasi saya, hanya penulis lirik dan komposerlah yang boleh menentukan apakah interpretasi saya benar atau salah. Manira adalah satu dari sekian banyak lagu berirama Melayu yang saya sukai. Rentaknya adalah samrah, yaitu rentak yang memadukan unsur Persia dan Arab di dalamnya. Berikut liriknya:

Deru langkisau redup menutup, alah sayang, redup menutup
Langit membiru kelam berkabut, alah sayang, kelam berkabut
Rusaklah sudah lerahlah jiwa, alah sayang, lerahlah jiwa
Bagailah mana rungkai nasibnya, alah sayang, rungkai nasibnya

Refrain (2x):
Buana fitrah alam bersatu
Manira sujud seru kalimah kudus
Dia hanya satu

Siapa bisa redah kesumat, mungkinkah ada bukan hikayat?
Laksana berapi ada bertepi, tamatlah segala dendam amarah...
Mengapa dalam damai diragut? Tandanya larik tak bertaut
Kiranya 'tika malam menyebut, nyala padam berarak redup

Sinar mentari terbit meninggi, alah sayang, terbit meninggi
Matanya bundar kaca-berkaca, alah sayang, kaca-berkaca
Padukan satu buana indah, alah sayang, buana indah
Tentulah rahmat fitrah tercipta, alah sayang, fitrah tercipta

Kembali ke refrain

Analisis Lirik

Lirik ini penuh metafora (semoga saya bisa menginterpretasikan lirik ini dengan tepat). Ada beberapa simbol, namun saya lebih memfokuskan pada baris: Mengapa dalam damai diragut? Tandanya larik tak bertaut/Kiranya 'tika malam menyebut, nyala padam berarak redup. Menurut saya, inilah kunci dari lagu ini. Lagu ini menceritakan kedamaian beragama yang adalah objek sebagian orang untuk dirusak dengan kisruh sana sini. 

Ketika saya mendengar lagu ini, memang benar. Lagu ini sedikit 'menyentil' situasi zaman sekarang. Kisruh beragama yang diganggu. Agama adalah hak setiap orang untuk dipeluk dan kebebasan agama adalah dijamin pemerintah. Namun, mengapa sepertinya para penguasa merusak kebebasan dan kedamaian beragama melalui kerusuhan di sana-sini, izin pembangunan rumah ibadah yang dipersulit, dan lain sebagainya, sengketa tempat ibadah antara masyarakat sekitar dan pembangun, dan lain sebagainya. 

Haruskah kita menunggu untuk ditegur terlebih dahulu agar bisa berefleksi atas semua ini?